Tampilkan postingan dengan label Dalang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dalang. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Februari 2016

Mengenang Pengabdian Ki Hadisugito di Jagad Pewayangan


Dalang, Faktor Utama Keadiluhungan Wayang Kulit


PAKEM pewayangan adalah paugeran pergelaran wayang yang harus dipatuhi oleh para dalang. Meskipun demikian, isen-isen ajaran dalam pergelaran wayang harus disesuaikan dengan perkembangan zaman. Nut jaman kelakone. Bahkan dalam adegan tertentu, omongan tokoh-tokoh tertentu juga tidak ditabukan glenyengan atau dleweran ke permasalahan yang sedang aktual di masyarakat. Bahkan ketika sedang dalam jejeran, tiba-tiba Janaka terkentut, sebenarnya juga bukan hal yang tabu. Bukankah Janaka itu juga gambaran sesosok manusia biasa?

Pernyataan itu disampaikan Ki Hadi Sugito kepada KR pada tahun 1987. Saat itu gaya pewayangan Ki Hadi Sugito dinilai telah mengalami loncatan jauh maju ke depan, inovatif dan kreatif. “Dalam soal lakon, kalau memainkan lakon-lakon babonan saya selalu sama persis dengan apa yang ada di pakem lakon. Tetapi kalau memainkan cerita-cerita carangan, saya memang banyak menafsirkan sendiri dan saya sesuaikan dengan situasi dan kondisi sewaktu saya mendalang. Cerita-cerita carangan itu kan juga diciptakan sendiri oleh mbah-mbah buyut kita?” tegas Ki Hadi Sugito saat itu.
Selain dikenal ada keseimbangan antara tontonan (entertainment) dan tuntunan (ajaran pendidikan), gaya pedalangan Ki Hadi Sugito sejak tahun 70-an dikenal selalu dikemas segar namun berbobot. Kehebatan vokal dan antawecana dalang asal Kulonprogo itu dikenal sangat enak didengar dan ada harmoni antara suara dalang dengan gendhing pengiring. Karena itu banyak panggemar wayang kulit yang merasa seolah-olah melihat kehidupan nyata ketika mendengarkan pergelaran wayang kulit oleh Dalang Hadi Sugito, meskipun hanya lewat siaran radio atau rekaman audio.
Peran sentral Ki Hadi Sugito dalam pergelaran wayang kulit gagrak Yogyakarta sudah tidak diragukan. Ia adalah salah satu dalang yang tetap berpegang kuat pada pakem pergelaran wayang kulit gaya Yogya. Ia sama sekali tidak terseret arus dalang-dalang lain yang ‘terjebak’ pada pergelaran wayang yang hanya mengutamakan segi tontonan dan mengabaikan fungsinya sebagai tuntunan.
Dalam kondisi para pemerhati seni tradisi sedang prihatin lantaran jagad perkeliran yang sedang carut-marut, 9 Januari lalu mendadak terdengar kabar bahwa Sang Maestro Dalang Yogya, Ki Hadi Sugito, meninggal dunia. Berita itupun benar adanya, dan Ki Hadi Sugito dimakamkan di Sasana Laya Genthan Panjatan Kulonprogo, 10 Januari 2008 tepat 1 Sura 1941 (1 Muharam 1429 H).
Keprihatinan para pemerhati seni dan para dalang wayang kulit klasik bertambah, karena saat ini sebenarnya pedalangan gaya Yogya sangat memerlukan tokoh panutan, seperti Ki Hadi Sugito. Keprihatinan itu antara lain diungkapkan oleh Ki Cerma Sutedjo, Ki Sumono Widjiatmodjo dan sejumlah dalang lain. Sebab menurut mereka, dalang merupakan faktor utama keadiluhungan pergelaran wayang kulit. “Untuk saat ini Ki Hadi Sugito adalah figur yang paling pas dijadikan panutan para dalang muda khususnya, agar pergelaran wayang gaya Yogya tetap adiluhung,” kata Ki Cerma Sutedjo.
Dalang asal Surakarta, Ki Purba Asmoro SKar MHum menilai bahwa kalau mendalang, seolah roh Pak Hadi Sugito bisa masuk ke tubuh wayang, terutama kalau sedang memainkan tokoh Durna, Togog dan Mbilung. Kehebatan antawecana sampai membuat wayang seolah benar-benar hidup pada zaman sekarang, adalah kemampuan Ki Hadi Sugito yang tidak dimiliki oleh dalang-dalang lain. “Pak Gito benar-benar dapat menghidupkan wayang sesuai zamannya. Namun pergelaran wayang yang dimainkan Ki Hadi Sugito tetap bergaya klasik, sesuai aturan dan tatanan yang adiluhung,” tegas Ki Purbo ketika mewakili para seniman dalam upacara pemberangkatan jenazah Ki Hadi Sugito, Kamis (10/1) lalu.
Sebagai pelaku kesenian adiluhung, lanjut Ki Purbo, pengabdian Ki Hadi Sugito sudah tatas-tuntas. Ia telah mendarmabaktikan hidup sepenuhnya kepada kesenian tradisional yang adiluhung menjadi kesenian yang mampu mengikuti perkembangan zaman. “Sikapnya yang enthengan kepada sesama seniman dan sikapnya yang tegar berpegang pada pakem pewayangan klasik Gagrak Ngayogjakarta, merupakan sikap yang sangat pantas diteladani, agar pergelaran wayang kulit benar-benar tetap adiluhung,” tandasnya.
Tentang keadiluhungan pergelaran wayang, Ir Haryono Haryoguritno dari Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Senawangi) mengatakan, suatu karya seni dapat mencapai kemahakaryaan karena ditentukan oleh manusia pelaku seni (seniman yang bersangkutan, dalam hal ini dalang), suasana sekitar yang mendukung pergelaran, iklim berkesenian di suatu daerah, dan faktor-faktor lain yang mendukung keadiluhungan pergelaran wayang.
Mengutip isi buku pedalangan Sastramiruda, Ir Haryono Haryoguritno menguraikan bahwa untuk menuju keadiluhungan pergelaran wayang, seorang dalang harus memenuhi 12 syarat. Di antaranya antawecana (menyuarakan secara tepat masing-masing tokoh wayang), renggep (dapat menyajikan tontonan yang mengasyikkan, nges (dapat mendramatisasi adegan sehingga mampu membangkitkan rasa keterlibatan penonton/pendengar), tutug (dapat menyajikan lakon sampai tuntas), gecul/banyol (dapat membuat lelucon) dan kawiradya (dapat membedakan janturan untuk masing-masing adegan.
Ketua Pepadi Kulonprogo, Ki Sumono Widjiatmodjo mengatakan, Pak Gito sangat dikenal sebagai dalang gecul ning ora saru. Dalam hal antawecana, Pak Gito sangat jagoan, terutama ketika memainkan tokoh Durna, Togog dan Mbilung. Bahkan dalam lakon Bagong Kembar, penonton atau pendengar dapat dengan jelas membedakan mana Bagong yang asli dan yang palsu.
“Soal nges lan greget, Pak Gito selalu dapat menarik perasaan orang lain terlibat dalam pergelaran wayang. Apalagi kalau sedang memainkan tokoh Durna yang jahat, sehingga ada penonton di Ngambal Kebumen benar-benar sangat membenci Durna dan mencabut wayang Durna yang sedang dimainkan Ki Hadi Sugito,” kata Ki Sumono. (Joko Budhiarto)
***
INNA lillahi wa inna illaihi roji’un, semua yang berasal dari Allah pada akhirnya kembali kepada Allah pula. Kabeh jalma yen wis titi wanci bakal tumekaning pati, marak sowan marang Sang Hiang Widhi. Begitu juga halnya dengan Ki Hadi Sugito.
Tepat pada hari Rebo pasaran Legi tanggal 9 Januari 2008 Masehi, atau bersamaan dengan tanggal 30 Dzulhijjah tahun 1428 Hijriyah, atau tanggal 30 Besar 1940 Jawa, Ki Hadi Sugito harus “marak sowan” ke hadirat Allah SWT.
Di dalam usianya yang 67 tahun, dhalang kondhang yang sudah puluhan tahun malang melintang di jagat pakeliran itu harus menghadap Sang Hiang Widhi. Almarhum dimakamkan di TPU Sasana Laya Genthan, Tayuban, Panjatan, Kulonprogo. Tentu tidak saja keluarganya di Toyan, Triharjo, Wates Kulonprogo yang kehilangan, akan tetapi masyarakat Yogyakarta khususnya dan bangsa Indonesia umumnya ikut serta merasa kehilangan.
Dunia seni kita telah kehilangan salah satu putra terbaiknya. Dekarakterisasi Tokoh Saat ini memang banyak dhalang yang ternama, katakanlah Ki Timbul Hadi Prayitno (Yogyakarta), Ki Manteb Sudarsono (Surakarta), Ki Anom Suroto ( Surakarta), Ki Asep Sunarya (Bandung) dsb. Kalau wanita ada nama-nama, Nyi Suharni Sabdowati (Sragen), Nyi Wulansari Panjangmas (Wonogiri), Nyi Cempluk Sabdosih (Sragen), Ni Sri Rahayu Setiyowati (Jakarta), dsb. Namun, di antara banyak dhalang ternama tersebut tidak satu pun yang memiliki gaya mendhalang yang “kocak” tetapi taat pada pakem sebagaimana kekhasan Ki Hadi Sugito.
Kreativitas seni Ki Hadi Sugito memang harus diakui signifikansinya; dan dari kreativitas seni yang dimiliki itulah muncul berbagai ungkapan yang membuat kekhasan dalam beroleh seni. Kalau punakawan seperti Gareng dan Petruk sering ndhagel kiranya hal itu sudah biasa, demikian juga dengan tokoh pewayangan yang berkarakter “celelekan” seperti Dursasana dan Buriswara; tetapi tentu saja tidak untuk tokoh pewayangan yang berkarakter “serius” seperti Arjuna, Werkudara dan Abimanyu. Tetapi di tangan Ki Hadi Sugito, semua tokoh pewayangan yang berkarakter “serius” pun bisa ndhagel, guyonan, bahkan membanyol. Arjuna, Werkudara, Abimanyu, Adipati Karna, Duryudana, Kunthi, Wara Sembadra, Drupadi, Utari dsb, semuanya bisa mengocok perut penontonnya.
Bahkan tokoh pewayangan yang “wingit” seperti halnya Bathara Guru pun tidak jarang didagelkan. Oleh para penggemarnya, Ki Hadi Sugito dihafali dengan ungkapan-ungkapan khas yang tidak dimiliki oleh dhalang lain: seperti ngglibeng, menus, prandekpuno, prek, trembelane, dan sebagainya. Orang tentu tidak bisa membayangkan bagaimana tokoh “wingit” seperti Bathara Guru bisa ngendika (berucap) “prek” kepada dewa lain atau kepada manusia. Ungkapan khas tersebut menimbulkan berbagai pendapat di kalangan masyarakat, khususnya analis seni pewayangan, baik yang negatif maupun yang positif.
Di satu sisi ada analis yang menyatakan apa yang dipertunjukkan oleh Ki Hadi Sugito dengan “mendagelkan” semua tokoh wayang, terutama yang berkarakter serius dan wingit, telah merusak dunia pewayangan itu sendiri. Argumennya cukup jelas, salah satu kekhasan pertunjukan wayang adalah adanya karakter yang sudah melekat pada tokohnya, jadi kalau ada upaya melepas karakter tersebut (dekarakterisasi) seperti yang dilakukan Ki Hadi Sugito, hal itu telah merusak dunia pewayangan itu sendiri.
Di sisi lain ada analis yang menyatakan apa yang dilakukan Ki Hadi Sugito adalah langkah yang positif karena tidak pernah menerjang pakem. Ndagelnya tokoh wayang tidak sampai pada titik dekarakterisasi, dan hal ini justru menjadi metoda yang tepat untuk menarik minat masyarakat supaya menuntaskan pertunjukan yang dimainkannya. Di dalam penuntasan inilah akan dimuati pesan-pesan luhur dengan cara yang ringan dan tidak terkesan membebani.
Aneka pendapat tersebut tentunya merupakan hal yang lumrah. Jangankan terhadap Ki Hadi Sugito, sedangkan kepada Bung Karno, Pak Harto, SBY, Gus Dur, dan Amien Rais pun sama saja; di satu pihak ada yang memuji dan di lain pihak ada yang mencemooh. Teguh Pendirian Terhadap aneka pendapat yang ditujukan kepada dirinya, nampaknya Ki Hadi Sugito tidak pernah risau. Beliau teguh dalam berpendirian dengan tetap menampilkan pertunjukan sesuai dengan kekhasan dirinya. Beliau yakin dengan cara itu minat masyarakat terhadap wayang akan semakin meningkat.
Para pemuda yang mulanya asing terhadap wayang pun akan mulai tertarik melalui dhagelan-dhagelan yang dibawakannya, Kalau pemuda sudah tertarik terhadap wayang? Lakon selanjutnya adalah meniupkan pesan-pesan moral dan ajaran hidup secara ringan, sama sekali tidak dengan metode yang terlalu serius yang terkadang justru membosankan.
Barangkali atas keteguhan pendiriannya tersebut maka Ki Hadi Sugito dinobatkan sebagai salah satu dari 22 orang Jawa yang terpandang dan terkenal (misuwur) versi Wikipedia. Adapun tokoh-tokoh lain di luar dirinya antara lain adalah Sultan Agung, Panembahan Senapati, Ranggawarsita, Poerbatjaraka, Sri Sultan HB IX, Ki Narto Sabdo, Tjan Tjoe Siem, dan Amien Rais.
Masuknya nama Ki Hadi Sugito dalam daftar orang Jawa yang terpandang dan terkenal secara tidak langsung merupakan pengakuan atas prestasi yang telah diukir oleh dirinya. Wafatnya Ki Hadi Sugito semoga meninggalkan generasi muda yang kokoh, berkarakter dan mampu berbuat banyak bagi bangsanya sebagaimana meninggalnya Prabu Pandhu Dewanata yang meninggalkan Pandawa yang kokoh, berkarakter dan mampu berbuat banyak bagi bangsanya. Selamat jalan Pak Gito……..

sumber: https://wayang.wordpress.com/2010/07/26/mengenang-pengabdian-ki-hadisugito-di-jagad-pewayangan/

Rabu, 27 Januari 2016

Biografi Dalang : Ki Manteb Sudarsono (H. Manteb Soedharsono)

Biografi Dalang : Ki Manteb Sudarsono (H. Manteb Soedharsono)
Ki Manteb Soedharsono lahir pada hari Selasa Legi, 31 Agustus 1948 di Dukuh Jatimalang, Kelurahan Palur, Kecamantan Mojolaban, Sukoharjo, Jawa Tengah. Ki Manteb dibesarkan di tengah keluarga dalang. Kakeknya (Dalang Tus) adalah seorang dalang kondang, dan ayahnya, Ki Hardjo Brahim Hardjowijoyo juga seorang dalang yang pada masa kejayaannya cukup disegani, sedangkan ibunya adalah pesinden dan pengrawit yang berpengalaman.

Sejak kecil Ki Manteb Soedharsono sangat rajin dan tekun mengikuti pementasan orang tuanya. Pengalaman masa kecilnya yang begitu akrab dengan seluk-beluk dunia pewayangan telah membentuk pribadi Ki Manteb kaya akan memori dunia pertunjukan wayang kulit. Kedisiplinan sang ayah dalam mendidiknya, menjadikan kemampuan dan keterampilan Ki Manteb kecil terus berkembang. Pada saat berusia 5 tahun, ia sudah dapat memainkan wayang dan manabuh beberapa instrumen gamelan seperti demung, bonang dan kendang. Menatah wayangpun diajarkan oleh Ki Hardjo Brahim kepadanya. Tak heran, saat usianya menginjak 10 tahun, Ki Manteb sudah mampu menatah wayang kulit dengan bagus.

Sementara sang ibu yang juga seorang seniman, penabuh gamelan, lebih suka jika putranya itu memiliki pekerjaan sampingan selain menjadi dalang. Oleh karena itu, ia pun memasukan Ki Manteb ke STM Manahan, Sala. Namun nasib berkata lain, karena bakat dan kemampuannya telah terasah sejak kecil, Ki Manteb laris sebagai dalang. Kesibukannya mendalang membuat pendidikannya terbengkalai. Hal ini membuat Ki Manteb harus memilih antara pendidikan di sekolahnya atau meniti karier sebagai dalang. Akhirnya, ia memutuskan untuk berhenti sekolah demi mendalami karier mendalang.

Ki Manteb saat pentas di Paris, Perancis

Tuntutan dan tantangan dari ayahnya untuk meneruskan garis dinasti dalang kondang memacu Ki Manteb muda berjuang keras dan berlatih, dibarengi dengan proses tirakat laku bathin yang dilakoninya dengan sungguh-sungguh. Pada usianya yang relatif muda (14 tahun), Ki Manteb telah mampu menguasai seluruh instrumen musik gamelan. Ia pun pernah dikenal sebagai tukang kendang cilik yang mumpuni dan sering mengiringi pertunjukan wayang yang digelar oleh dalang sepuh, Ki Warsino dari Baturetno, Wonogiri. Kesempatan itu pun ia manfaatkan untuk menimba ilmu pedalangan dari Ki Warsino.

Agar lebih dapat meningkatkan keahliannya, Ki Manteb banyak belajar kepada para dalang senior. Misalnya, ia belajar dari dalang legendaris Ki Narto Sabdo yang mahir dalam seni dramatisasi pada tahun 1972, dan dari Ki Sudarman Gondodarsono yang ahli sabet (seni menggerakkan wayang) pada tahun 1974. Pada tahun 1982, berkat gemblengan dari dua dalang senior itu dan sang ayah, Ki Manteb berhasil menjuarai Pakeliran Padat se-Surakarta.

Ketika Ki Narto Sabdo meninggal dunia tahun 1985, seorang penggemar beratnya bernama Soedharko Prawiroyudo merasa sangat kehilangan. Ia kemudian bertemu murid Ki Narto, Ki Manteb, yang dianggap memiliki beberapa kemiripan dengan gurunya itu. Ki Manteb pun diundang untuk mendalang dalam acara khitanan putra Soedharko.

Sejak itu, hubungan keduanya semakin akrab. Soedharko kemudian bertindak sebagai promotor pergelaran rutin Banjaran Bima di Jakarta yang dipentaskan oleh Ki Manteb. Pergelaran tersebut diselenggarakan setiap bulan sebanyak 12 episode sejak kelahiran sampai kematian Bima, tokoh Pandawa. Pergelaran itulah yang kemudian membuat nama Ki Manteb sebagai seniman tingkat nasional mulai diperhitungkan publik.

Ketika Ki Manteb menyerahkan wayang Bima kepada Presiden SBY

Ki Manteb mengaku hobi menonton film kung fu yang dibintangi Bruce Lee dan Jackie Chan. Aksi laga para jagoan kesayangannya itu kemudian diterapkan ketika mendalang sebuah lakon. “Saya mengembangkan teknik sabetan itu dari film-film Bruce Lee dan Jacky Chan. Gerakan kungfu itulah yang memberi saya inspirasi dalam sabetan,” kata ayah enam anak ini.
ghhf

Untuk mendukung dramatisasi sabet yang dimainkannya, Ki Manteb pun membawa peralatan musik modern ke atas pentas, misalnya tambur, biola, terompet, ataupun simbal. Pada awalnya hal ini banyak mengundang kritik dari para dalang senior karena dianggap melenceng dari pakem-pakem yang sudah ada. Namun tidak sedikit pula yang mendukung inovasi Ki Manteb. 

Untuk mendukung dramatisasi sabet yang dimainkannya, Ki Manteb pun membawa peralatan musik modern ke atas pentas, misalnya tambur, biola, terompet, ataupun simbal. Pada awalnya hal ini banyak mengundang kritik dari para dalang senior karena dianggap melenceng dari pakem-pakem yang sudah ada. Namun tidak sedikit pula yang mendukung inovasi Ki Manteb. Karena keterampilannya dalam mendalang, Ki Manteb diberi julukan dalang setan oleh para penggemarnya.

Julukan dalang setan itu diberikan pertama kali pada tahun 1987 oleh mantan menteri penerangan Boedihardjo, seusai menyaksikan Ki Manteb mendalang. Julukan itu bukan karena sang dalang jahat, tetapi justru sebagai bentuk kekaguman Boedihardjo terhadap sabetan (cara menggerakkan wayang kulit) yang dimiliki Ki Manteb. Ki Manteb bisa memainkan beberapa wayang sekaligus, dengan gerakan secara cepat dan berputar-putar dalam lakon peperangan yang luar biasa mencengangkan. Bagi penikmat wayang, gerakan-gerakan tersebut dianggap luar biasa dan tidak bisa dilakukan oleh sembarang dalang.

Misalnya dalam ramainya perang, tiba-tiba tokoh yang tadinya terdesak, tiba-tiba memegang senjata dan ganti memukul lawannya. Menurut Ki Manteb, semua itu bukan sulap bukan sihir, namun berkat ketekunan melatih kecepatan gerak tangan dan kemampuan mengalihkan perhatian penonton. Untuk mendukung kemampuan sabetnya, Ki Manteb sangat kreatif dan sangat teliti mendesain wayangnya. Mulai dari ketebalan kulitnya, pola hiasannya, gapitan sampai wandanya.

Meskipun menekankan pada aspek keindahan visual namun pakeliran gaya Ki Manteb pada akhirnya tidak saja tampil sebagai tontonan yang menghibur tetapi juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk melakukan dialog reflektif dengan kenyataan hidup yang dihadapi bersama, sarat dengan pesan-pesan moral baik berupa kritik-kritik terhadap pemerintah dan masyarakat, maupun harapan-harapan yang mendorong semangat optimistik bagi masyarakat penontonnya. Dalam setiap pertunjukannya, Ki Manteb selalu mencoba memaknai dan menafsir ulang lakon yang disajikan. Tak jarang juga, Ki Manteb mengadopsi pola penyusunan alur dramaturgi film dalam lakon-lakon wayangnya, seperti mempergunakan alur flashback. Penyusunan plot cerita yang kontekstual dengan isu-isu atau kondisi yang sedang berkembang di masyarakat menjadikan pertunjukannya selalu up to date.


Kreativitas dan inovasi-inovasi yang intens dilakukan Ki Manteb mampu membawa pertunjukan wayangnya menjadi pertunjukan akbar yang ditonton oleh ribuan orang. Popularitas yang luar biasa itulah yang mengilhami sebuah produk obat “Oskadon” menjadikan Ki Manteb sebagai brand image untuk mendongkrak omzet penjualan dengan jargon “Oskadon Pancen Oye”. Hasilnya pun sangat fantastis, omzet pemasaran naik hingga lebih dari 400%. Kerjasama yang telah berlangsung dari tahun 1990 hingga sekarang membuat produk tersebut sangat lekat dengan image Ki Manteb. Julukan “Dalang Oye” pun diberikan masyarakat kepadanya.

Popularitas itu terus bertahan. Penontonnya tersebar di berbagai daerah di Indonesia, tidak hanya di pulau Jawa namun juga di luar Jawa. Sudah ribuan pementasan dia gelar dengan berbagai maksud dan kepentingan, seperti untuk acara ruwatan, pesta hajatan, kampanye politik ataupun gelaran pentas untuk menyosialisasikan beragam program pemerintah seperti Keluarga Berencana (KB), Anti HIV AIDS dan Narkoba, sosialisasi pemilu dan lain-lain. Ki Manteb juga tak jarang menggelar pertunjukkan di sejumlah daerah tanpa bayaran. Dari sekian banyak lakon yang pernah ia mainkan, beberapa lakon menjadi sangat fenomenal, seperti “Banjaran Bima”,“Ciptoning”, “Wiratha Parwa”, “Dewa Ruci”, dan lain-lain. Sebuah lakon special “Celeng Degleng” merupakan lakon carangan Ki Manteb sendiri ketika menginterpretasi lukisan-lukisan karya Djoko Pekik “Berburu Celeng” yang menggambarkan tumbangnya rezim Soeharto.

Beberapa pertunjukan wayang kulit di luar negeri pun pernah Ki Manteb lakukan seperti di Amerika Serikat, Spanyol, Jerman, Jepang, Suriname, Belanda, Perancis, Belgia, Hongaria dan Austria. Ketika kesenian wayang ditetapkan oleh UNESCO sebagai Masterpieces of the Oral and Intangible of Heritage of Humanity, Ki Manteb terpilih mewakili komunitas dalang indonesia untuk menerima penghargaan tersebut.

Beberapa penghargaan sudah diterima oleh Ki Manteb. Pada Tahun 1995, ia mendapat penghargaan dari Presiden Soeharto berupa Satya Lencana Kebudayaan. Kemudian pada tahun 2004, Ki Manteb memecahkan rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) karena kegemilangannya mendalang selama 24 jam 28 menit tanpa istirahat pada acara Ultah RRI Semarang.

Pada 19 Mei 2010, Ki Manteb menerima penghargaan budaya dari Nikkei Asia Prize, sebuah penghargaan dari penerbitan koran terbesar di Tokyo, Nihon Keiza Shimbun (Nikkei). Nikkei melihat dedikasi Ki Manteb yang sangat besar dalam melestarikan dan menekuni wayang kulit. Ki Manteb juga mampu menyebarkan dan menyajikan pertunjukan wayang yang memukau masyarakat tidak hanya di Indonesia namun juga di berbagai belahan dunia.

Ki Manteb menerima piagam penghargaan Nikkei Asia Prize

Selain gaya pedalangan yang atraktif, Ki Manteb juga dikenal sebagai pelopor dalam hal manajemen keuangan. Honor hasil pentas tidak dihabiskan langsung, melainkan dikelola oleh manajernya. Ki Manteb memiliki banyak kru dalam setiap pementasannya. Ia juga membutuhkan biaya perawatan untuk armada dan peralatan mendalangnya. Manajemen yang baik amat diperukan agar tidak bernasib sama seperti dalang lainnya yang semasa muda hidup berlimpah karena laris, namun setelah tua menderita kekurangan.

Rabu, 13 Januari 2016

Biografi Dalang Asep Sunandar Sunarya



Biografi Dalang Asep Sunandar Sunarya





Image result for asep sunandar sunarya

Asep Sunandar Sunaryalahir 3 September 1955 di Kampung JelekongKacamatan Baleendah, 25 km arahkidul Kota Bandung (ngantunkeun di Jelekong, 31 Maret 2014)Asep Sunandar nu di kulawargana katelah oge Sukana.

Abah Asep anak katujuh ti tilu welas putra Abah Sunarya; anu kasohor dalang legendaris di wewengkon Pasundan. Salain Asep Sunandar Sunarya, putra Abah Sunarya sanesna anu profesina janten dalang nyaetaAde Kosasih Sunarya, Iden Subasrana Sunarya, Ugan Sunagar Sunarya, Agus Muharam, sareng Imik Sunarya.
Asep Sunandar Sunarya dalang wayang golek kahot anu katelah ku bodoran si Cepot. Ku karyana eta,anjeunna pantes disebat seniman seni pertunjukan nu ngadobrak jagat wayang golek di Indonesia. Salain si Cepot, wayang buta oge didamel karakter-karakterna sakitu rupa. Ku kituna rupa-rupa wayang buta bisa ngalakukeun hal-hal anu unik, misalna sirahna beulah atawa buta nu bisa ngakod wayang budak.
Asep Sunandar Sunarya kenging pujian dina ngawanohkeun wayang golek ka masyarakat, namung sagedengeun eta oge dikritik kana karya terobosanna. Tapi, kritikan eta kanggo Bah Asep mah taya lian janten nambih sumanget kreativitasna. Hal ieu ngabuahkan hasil, namina langkung populerUtamana basaBah Asep ngahontal juara Dalang Pinilih I Jawa Barat taun 1978 sareng 1982. Salajengna taun 1985, Bah Asep ngahontal juara umum dalang tingkat Jawa Barat sarta ngengingkeun pangajen Bokor Kencana.

Pangakuan hasil kreativitasna dina ngadalang, sanes wae datang ti masyarakat Jawa Barat katut Indonesia,namung oge ti luar negeri. Asep Sunandar Sunarya kantos janten dosen luar biasa di Institut International De La Marionnete di Charleville PerancisTi institut eta Bah Asep nampi gelar profesor. Tempat padepokanna, Padepokan Giri Harja taun 1987 diresmikeun janten Pusat Belajar Seni Pedalangan ku Menteri Penerangan RIanu dina waktu harita dijabat Pa Harmoko. Ayana Padepokan Giri Harja pohara aya pangaruhna ka prestasi, kreasi, sareng motivasi Bah Asep Sunandar Sunarya minangka nu kalebet Dalang Wayang Golek Kontemporer

Waktos nincak rumaja, Bah Asep Sunandar Sunarya gaduh ambisi janten dalang. Ku kituna, satamat SMP,anjeunna diajara seni padalangan di RRI BandungCacak bapana saurang dalang legendaris di kampungna, Asep malah milih diajar dalang ti Cecep Supriadi di Karawang.

Kang Asep liliwetan sareng Kang Darso saparakanca.
[Koleksi foto sanesna]

Benten sareng
 dalang saentraganna, anu ngadalang di tempat-tempat nu khusus, Bah Asep malahan leukeunngasosialisasikan wayang golek anu inovatif ka kampus-kampushotel-hotelgedong-gedong sarta televisi.Usahana ngabuahkan hasil. Wayang golek populer di sagala rupa tempat, wayang golek jadi kameumeut masyarakat Sunda. Wayang golek nu dipidangkeun ku Bah Asep dipikaresep kunu lalajo, boh budak ngoraoge para sepuh. Popularitas Asep Sunarya langkung kawentar. Anjeunna teu mung saukur sok diulem pentas ngadalang di dalam negeritapi oge ngalanglangbuana ka Benua AsiaAmerika, dugi  ka nagara-nagara Eropa.

Gaya pertunjukan wayang golek Asep Sunandar Sunarya kalebet seni pertunjukan nu gaduh nuansa anyar anulahir di lingkungan Dinasti Sunarya. Hal anu paling dipikaresep ku masarakat sareng mangrupikeun ciri khasna. Asep Sunandar Sunarya katelah kaahlianana dina ngokolakeun gerak atanapi sabetan wayangkalayan tampilan humor sareng banyolan anu sentimentil, luwes, sareng seger katambih dibarung kolaborasi sareng seniman lawak sejen (Nyi Ijem, Kang Ibing, Ohang, Sule, Anton Abox, jsb.).


Profil Asep Sunandar Sunarya
Alamat : Giri Harja RT 01/01 Kel. Jelekong Kec. Baleendah Kab. Bandung
1962 – 1968 : SD Cangkring
1968 – 1971 : SMP Pasigaran
1975 – ayeuna: Dina waktu sataun minimal ngayakeun 120 kali pertunjukan, malah ti 1976 depi 1987 kungsi ngeusi pertunjukan wayang golek salila 6 bulan noron.
1978 : Juara Pinilih I Binojakrama sa-Jawa Barat.
1982 : Juara Pinilih I Binojakrama sa-Jawa Barat.
1984 – 2001: Ngadegkeun Yayasan Pedalangan Giri Harja.
1985 : Juara Umum Binojakrama sa-Jawa Barat.
1989 : Ngayakeun muhibah ka Amerika dina raraga pementasan wayang golek.
1992 : Miluan Festival Wayang (Teater Boneka) di Perancis.
1993 : Jadi Dosen Kehormatan di Institut International de La Marionnette di Charleville Perancis.
1994 : Ngurilingan Eropa dina raraga pementasan wayang golek.
1994 – 2004 : Ngeusi program acara "Asep Show" di Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) unggal bulan Ramadhan.
2001 : Muhibah ka Inggris dina raraga pementasan wayang golek di 12 kota bareng jeung Asian Music Circuit (AMC).
2005 : Ngeusi program acara Pementasan Wayang Golek unggal malem Minggu di Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) lobana 36 episode.
Selain jadi dalang, Asep meunangkeun panghargaan ti sababaraha instansi jeung panghargaan ti Presiden Soeharto, nyaeta Tanda Kehormatan Satyalencana Kebudayaan.